psikoterapi minggu #4

PSIKOTERAPI  #4

 

PERSPEKTIF INTEGRATIF

 

Konseling Eklektik & Integratif A. Perspektif Historis Eklektisme (eclectism) adalah pandangan yang berusaha menyelidiki berbagai sistem metode, teori, atau doktrin,yang dimaksudkan untuk memahami dan bagaimana menerapkannya dalam situasi yang tepat. Eklektiksme berusaha untuk mempelajari teori-teori yang ada dan menerapkannya dalam situasi yang dipandang tepat. Pendekatan konseling eklektik berarti konseling yang di dasarkan pada berbagai konsep dan tidak berorientasi pada satu teori secara eksklusif. Eklektisme berpandangan bahwa sebuah teori memiliki keterbatasan konsep,prosedur, teknik. Karena itu eklektisme “dengan sengaja” mempelajari berbagai teori dan menerapkan sesuai keadaan rill klien. Konseling eklektik dapat pula disebut dengan pendekatan konseling integratif.

Bentuk-bentuk psikoterapi integratif sangat bervariasi tergantung pada versi yang sedang dipertimbangkan, namun semua berbagi satu tujuan dan maksud bersama. Psikoterapi integratif adalah hasil dari perpaduan dari konsep teoritis dan teknik klinis dari dua atau lebih sekolah psikoterapi tradisional (seperti terapi psikoanalisis dan behavior) menjadi satu pendekatan terapi. Diharapkan bahwa terapi sintesis ini akan lebih kuat dan berlaku untuk populasi dan masalah klinis yang lebih luas daripada psikoterapi model individual yang membentuk dasar dari model integrasi.

Sejarah awal upaya integrasi disusun oleh Marvin Goldfried dan Cory Newman pada tahun 1992, dan oleh Jerold Gold pada tahun 1993, diidentifikasi terpencar tapi memiliki kontribusi yang penting sejak 1933, ketika Thomas French berpendapat bahwa konsep dari pembelajaran Pavlov harus diintegrasikan dengan psikoanalisis. Pada tahun 1944, Robert Sears menawarkan sebuah perpaduan dari teori belajar dan psikoanalisis seperti yang dilakukan John Dollard dan Neal Miller pada tahun 1950 yang diterjemahkan dari konsep dan metode psikoanalisis ke dalam bahasa dan kerangka prinsip-prinsip pembelajaran laboratorium.

Dalam pendekatan eklektik konselor menjalankan konseling secara sesuai dengan situasi kliennya. Mereka tidak bekerja secara serampangan, emosional, popularitas,interes khusus,ideologi atau atas kemauan dirinya sendiri. Lebih dari itu pendekatan eklektik itu sendiri secara konstan berkembang dan berubah sesuai dengan ide, konsep dan teknik serta hasil-hasil riset mutakir. Eklektik mempunyai sejumlah Asumsi Dasar berkaitan dengan proses konseling. Asumsi dasar itu adalah:

  1. Tidak ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh situasi klien.
  2. Pertimbangan profesional/pribadi konselor adalah faktor penting akan keberhasilan konseling pada berbagai tahap konseling.

Menurut Gilland dkk (1984) asumsi yang telah disebutkan ditunjang oleh kenyataan berikut :

  1. Tidak ada dua klien/ situasi klien yang sama
  2. Klien adalah pihak yang paling tau problemnya
  3. Kepuasaan klien lebih di utamakan diatas pemenuhan kebutuhan konselor
  4. Konselor menggunakan keseluruhan sumber professional dan personal yang tersedia dalam situasi pemberian bantuan (konseling)
  5. Konselor dan proses konseling dapat salah dan dapat tidak mampu untuk melihat secara jelas atau cepat berhasil dalam setiap konseling atau situasi klien
  6. Secara umum,efektivitas konseling adalah proses yang dikerjakan “dengan” klien bukan “kepada” atau “untuk” klien.
  7. Kepuasan klien lebih diutamakan diatas pemenuhan kebutuhan konselor.
  8. Banyak perbedaan pendekatan yang strategis berguna bagi konseptualisasi dan pemecahan setiap masalah. Mungkin ini bukan pendekatan atau strategi terbaik.
  9. Banyak masalah yang kelihatan sebuah dilema yang tidak dapat dipecahkan dan selalu ada bebagai alternatifnyaØ

Unsur-unsur terapi

Tujuan terapi

–        Membantu klien mengembangkan integritasnya pada level tertinggi,

yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan.

–        Menyadari klien sepenuhnya mengenai situasi masalahnya.

–        Mengajarkan klien secara sadar dan intensif memiliki latihan pengendalian di

atas masalah tingkah laku.

Peran terapis

Peran terapis sangat ditentukan oleh pendekatan yang digunakan dalam proses terapi. Beberapa ahli memberi penekanan bahwa terapis perlu memberi perhatian kepada klien agar dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan yang diinginkan klien. Pada dasarnya seluruh pendekatan berkeinginan membantu terapis mengubah diri klien.

Teknik-teknik terapi

Goldfried dan Norcross berpendapat bahwa dalam perspektif integratif terdapat tiga teknik terapi, yaitu:

–        Eklektikisme (electicsm)

Merupakan pandangan yang berusaha menyelidiki berbagai sistem metode, teori, atau doktrin, yang dimaksudkan untuk memahami dan bagaimana menerapkannya dalam situasi yang tepat. Pendekatan ini berusaha untuk mempelajari teori-teori yang ada dan menerapkannya dalam situasi yang dipandang tepat. Teknik ini dapat pula disebut dengan pendekatan konseling integratif.

–        Integrasi teoritis (theoretical integration)

Melibatkan formulasi pendekatan psikoterapi yang memberikan model yang berbeda-beda dan memberikan dasar yang konsisten dalam pekerjaan klinis seseorang. Misal, klinisi secara konsisten dapat memilih dua dasar teoritis, seperti sistem keluarga dan perilaku kognitif yang kemudian dari kedua dasar teoritis tersebut klinisi mengembangkan model intervensi. Dengan cara tertentu, klinisi mengembangkan modelnya sendiri berdasarkan sintesis konseptual yang memberikan kontribusi terhadap model yang telah dikembangkan sebelumnya. Pada permasalahan independen yang ada saat ini, terapis dengan konsisten dapat mencari cara ketika sistem keluarga dan kognisi yang maladaptif memberikan kontribusi terhadap stres pada klien. Intervensi yang dilakukan berdasarkan pada pendekatan yang membawa kedua model secara bersamaan.

–        Faktor umum (common factor approach)

Pada integrasi, klinisi mengembangkan strategi dengan mempelajari kesamaan inti unsur dari berbagai macam terapi dan memilih komponen yang selama beberapa waktu  memperlihatkan sebagai kontributor yang sangat efektif dalam memberikan hasil yang positif dari psikoterapi. Wampold (dalam Halgin & Whitbourne, 2010) menyimpulkan bahwa faktor umum jika dibandingkan dengan teknik yang spesifik merupakan faktor yang dapat membuat psikoterapi bekerja.

Beberapa klinisi mengombinasikan elemen dari tiga pendekatan integral yang menghasilkan dengan apa yang disebut sebagai mixed model of integration.

Daftar Pustaka
Habib., dan Hidayati. (2012). Intervensi Psikologis pada Pendidikan Anak dengan Keterlambatan Bicara. Jurnal Madrasah 5, 1, 86-91.

Halgin, Richard P., and Susan Krauss Whitbourne. 2010. Psikologi Abnormal Edisi 6 Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.

http://andyinis-journal.blogspot.com/2014/05/kasus-terapi-perspektif-integratif.html

http://mariathahera11.blogspot.com/2015/04/perspektif-integratif.html

http://cakrawala-bk.blogspot.com/2012/04/konseling-eklektik-integratif.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s